Pak Susilo mempunyai hobby memelihara burung merpati. Jangan salah, bukan merpati biasa, melainkan merpati balap. Persis seperti kuda balap gitu deh. Dirawat dengan baik, dimandikan dan dilatih setiap hari. Tentunya semua perlakuannya khusus. Terutama karena dari sekian banyak burung merpati yang dipelihara, ada satu yang sangat spesial karena juara balap diantara merpati lain. Banyak yang mengincar ingin mempunyai indukan merpati itu. Bahkan ada banyak yang berniat membeli dengan mengiming-imingi harga yang tinggi.
Bagi Pak sus, masalahnya bukan uang melainkan hobby dan kepuasan. Hobby dimana beliau mendapatkan kesenangan dengan bercengkerama dengan merpari-merpatinya. Kesenangan merasakan kepuasan saat merpati-merpatinya memenangkan perlombaan.
Namun suatu hari kesenangan tersebut harus dijual. Pak Susilo mempunyai anak semata wayang yang baru belum genap berusia 3 tahun, gadis kecil yang sangat dia sayangi melebihi merpatinya, Ika namanya. Si kecil kejang-kejang dan panas tinggi (step istilah umunya orang-orang). Panasnya begitu tinggi. Bu Susilo langsung membawa Ika ke rumah sakit Negeri di Semarang. Saking paniknya hanya mengenakan daster. Malahan budhenya Ika berlarian memakai sandal jepit yang bukan pasangan (selen istilah jawanya). Karena tidak memiliki kendaraan pribadi mereka naik bus umum menuju ke rumah sakit. Bus begitu penuh sesak. Namun tak seorangpun dengan kerelaan hati memberikan tempat duduknya untuk mereka.
Belum lagi kepanikan luar biasa menghinggapi keluarga tersebut, masih ditambah lagi harus menerima cacian dari perawat UGD.
“Anak wis dadi bathang kok digawa rene” (anak udah jadi mayat kok dibawa kemari)
Budhe dan Bu Sus hanya terdiam dan pasarah sepenuhnya pada kehendak TUHAN. Akhirnya si kecil Ika segera mendapatkan perawatan dari tangan-tangan terampil di rumah sakit tersebut. Selesai dari UGD, Ika dipindahkan ke ruang perawatan insentif. Berhari-hari selang-selang terpasang hampir di setiap lubang tubuhnya. Ika kecil, kelihatan tidak berdaya. Dan biaya rumah sakit terus menerus membengkak, karena Ika memerlukan perawatan khusus. Akibat panas, kemampuan motoriknya terganggu. Ika harus menjalani fifoterapi setelah masa kritisnya usai. Harus kembali belajar berjalan dan berbicara. Padahal tadinya Ika sangat ceriwis. Dokter bilang bahwa harap pasrah pada kehendak Tuhan. Semoga Ika kecil dapat pulih meskipun peluangnya tipis.
Pak Susilo menginginkan yang terbaik untuk putri kecilnya. Beliau menjual merpati balap kesayangannya. Ternyata satu merpati cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit.
Ketulusan dan keikhlasan hati Pak Susilo tidka bertepuk sebelah tangan. Meskipun butuh waktu lama, si kecil Ika kembali normal.
Dokter berkata “Anak bapak hebat dan cerdas, bisa bertahan dengan baik dalam kondisi seperti itu”.
Bagi Pak Susilo yang terpenting dia masih bisa mendampingi dan merawat putrinya.
Saya, Ika, sangat bersyukur memiliki beliau dalam hidup saya. Seorang Papa yang luar biasa memperjuangkan yang terbaik untuk anak-anaknya (kami akhirnya jadi 3 bersaudara, dan saya bukan anak semata wayang, tapi masih putri semata wayang, karena adik-adik saya laki-laki semua. He…he…)
Beliau adalah laki-laki dan Papa yang sangat luar biasa bagi saya. Banyak nilai-nilai hidup yang beliau tuturkan tanpa bermaksud menggurui. Banyak yang diteladankan tanpa bermaksud memerintah. Tks God for loving me and taking care me.
Love You, Dad. I Love you full.
0